Wednesday, September 23, 2009

Asa sang Bidadari

Berlabuh pada tepian bumi

dengan beribu malam antara mimpi

sepi bukan lagi penyakit hati

jika terulang semua bunyi


pokok pokok dahan tak pernah sendiri

mereka selalu dapat berdiri

meski tak pernah lewati sepi


bagaimana bila sepi dan mimpi terkubur

biarkan malam terus terbujur

ini bukan seni ukur

bukan pula untuk tertidur


bidadari jingga hanya ingin terhibur

dari sepi yang bermimpi

diantara semua bunyi

yang kian tertabur




puri kembangan, 24 september 2009

bidadari_jingga

Wednesday, September 16, 2009

sisi ruang

aku selalu melihat senja mulai berakhir
dan sepi mulai menguning di kaki cakrawala
juga embun yang mulai menetes satu persatu
pada dahan yang hampir saja mati

aku juga melihat anak- anak menaikan layang- layang
mengejar burung yang kian terbang tinggi
bernyanyi, senandungkan lagu rindu
rindu ayah dan bunda yang lalu

aku menapaki sisi-sisi ruang sempit dalam hati sang pelukis
yang mengais garis- garis yang kian menipis
yang terus meringis semakin tragis

Sunday, May 31, 2009

ini atau itu

Entahlah,
aku tak pernah tau mengapa seorang ibu diciptakan
dari terciptanya adam juga hawa yang membawa dosa
hingga kisah romeo and juliet yang membawa petaka

atau cerita tentang wanita- wanita kebiri
yang menumbuk sisa harap pada hari yang berganti

atau berita tentang pengaborsian yang di ceritakan surat kabar
pada khayalak ramai yang haus akan petaka

entahlah
aku tak pernah tau mengapa adam begitu mencintai pendosa hawa
yang dengan tega menyeretnya dalam tungku api dunia
dan petaka yang selalu terus abadi

atau cerita agama tentang poligami
yang terus mengakar pada hati

entahlah
entahlah

Friday, May 22, 2009

cerita sepi

Entah apa yang inginku tuliskan

jika senja saja sudah hilang dari pelupuk mataku

dan ranting ranting cakrawala sudah tak lagi bergelayut manja pada mentari

hilang ; tinggal sepi nan sunyi


hanya tertinggal sebuah jingga

dengan serpihan hujan yang tersisa kemarin malam

itupun dengan semburat kristal perak

yang terpatri dikeningnya


apa lagi yang harus ku ceritakan

jika daun- daun sudah menguning dan tak lagi dapat bernyanyi

dan pelangi sudah habis termakan hati


hingga aku terlupa dengan cerita,


Tuesday, May 19, 2009

wajah emas itu

ketika langit serukan lagu sepi dan mengalahkan sinar sang mentari

dicakrawala ku temukan seorang anak dengan wajah emasnya

menangis namun tertawa, entah apa yang ada dalam benaknya

mungkin dia menunggu kekasih pelangi tanpa hujan


beranjak malam dia menari dengan bintang- bintang

berakhir di muara beduk subuh

entah kapan dia tertidur dalam lampin peraknya

yang ku tau pernah menghiasi taman langit


ternyata hampir seperempat abad aku memperhatikan gadis kecil berwajah emas

dengan hati terluka oleh gurat- gurat kata

namun tak pernah ku lihat melukai anak sungai dengan air matanya

tak pernah juga ku lihat menggoreskan nama pada selembar kertas


rasanya ingin aku menari bersamanya mengalahkan semua duka

tubuh mungil berwajah emas

namun beberapa saat ku tersadar pada sebuah cermin usang disudut meja

aku merasa begitu dekat dan teramat dekat dengan wajah mungil itu

dia tepat berada dihadapanku


Thursday, May 14, 2009

bahagiaku

Setiap kepingan waktu yang ku lalui, tersulam senyummu

hingga bias nafasku menyebutkan kata- kata cinta untukmu

taman mimpi akan kugenggam bersama pelukmu

mungkin waktu akan berhenti berputar untuk kita dan bukan untuk cinta kita


aku bukan lagi seorang gadis berselimut mimpi

bukan lagi nyanyian sepi

dan waktu yang kulalui tak lagi sembunyi


bukan pangeran juga bukan bangsawan

hanya lelaki pengelana hidup

dengan mahar keikhlasannya dan kesabarannya

meminangku dengan seluruh aku


jakarta, 15 Mei 2009

teruntuk kekasihku Roy

Friday, March 6, 2009

rindu karna cinta dibangun pada pernikahan

:rindu
terpampang dalam jiwa
tak berbentuk juga tak berwujud

:cinta
isi dan mengisi
dalam insan berbeda

:nikah
merona pada waktu
tuk sepanjang jaman

dia kamu

malam sudah semakin larut dan bintang sudah berdendang
masih saja kau tidurkan jingga
tiada lelah hingga subuh menjelang
melenggang dari sisi hari kemarin

kau bilang "mencintaimu membuatku lebih sabar"
jika dijabarkan dalam sebuah tulisan

ini bukan
bukan ini yang ku mau

entah, apa yang senja perbuat pada malam
sujud seperti tikus
bukan malaikat yang datang
tapi cinta


pernah ku tuliskan sebait rindu pada selembar sakura
dan ku jabarkan pada awan yang terpampang di depan wajahmu
kan ku teriakkan sekeras kerasnya pada burung
biar burung- burung itu teriakan pada malam

sampai waktu yang bergerak cepat mengisi gelas- gelas yang retak
mengisi rongga- rongga kerongkongan yang gersang
seperti gurun dalam sebuah padang rumput hijau
indah namun gersang

katamu ini hanya rindu yang terukir
tapi mengapa dirimu tak meneruskan ukiran itu menjadi lekuk tubuh
kau biarkan hingga tak terbentuk mata atau hidung
rasa? mengapa kau berani rasakan
jika semuanya hanya mimpi tanpa nyata dalam waktu








Friday, February 20, 2009

warNa

Aku hanya dapat merindumu
berharap terhembusnya kesejukan meski sesaat
dwi warna yang dirimu ciptakan di pelupuk hatiku
berubah menjadi pelangi

bahkan bayangan air tebarkan kemilau keindahanmu
pujangga cinta tak mampu mensajakkan lagi
hingga mentari tenggelam
di tebing cakrawala

habis kata di tiap bait kalbuku
semuanya telah tenggelamkan
seluruh isi ruang hatiku

Lentera pErak

Lentera perak

kilaumu menembus katup jantungku

hanyutkan sisi-sisi ruang gelap

di pelupuk mataku


lentera perak

dekap aku dalam hangatmu

hancurkan tebing-tebing es

dalam tahta hatiku


lentera perak

lentera perak

temani aku setiap hari

kan ku taruh tiap jemari cintaku di sana

pangeran mimpi

Jari jemari cintaku tak lagi dapat menggenggam harap
hingga mentari merambat meninggalkan kepingan jingga di pundak cakrawala

sudahku cari di lorong -lorong waktu
cermin kesedihan
tetap tak ku dapati kesejukan suara kasih yang mengalun

ku tanya pada ilalang berkecapi emas
“apa kau tau dimana kereta kencana perak ?”

yang mampu terbang dengan separuh sayap penantian yang tersisa
untuk menggapai bintang hingga dapat kembali berpijak
mencari jejak-jejak tak bertapak

menyisir tepian pantai tak bergelombang
mencari serpihan- serpihan kenangan yang tertinggal
berharap dapat kembali kurajut menjadi kelopak-kelopak bunga
seperti pelangi nan elok di langit senja

temani aku pangeran mimpi
menunggu embun pagi membelai jiwaku yang mulai rapuh
mengisi tengkuk kerongkonganku
mengalir membasahi hati yang gersang

selembar puisi lagi


RINDU

Rajutan alam berusaha menyelesaikan cakrawala

ditepian tebing kudengar sayup sayup denting senar bergema diantara lembah- lembah hijau

rumput dan pinus-pinus muda ikut menari dengan ujung lembar jemari daunnya

serta ranting- ranting itu berubah menjadi lekukan-lekukan tangan dalam balutan hutan


lihatlah ombak berderu tiada lelah berlari di tepian pantai menghitung pasir

ditiap sela-sela karangnya yang kokoh

mengikuti bunga-bunga laut yang bernyanyi

nyanyikan lagu rindu yang aku senandungkan diantara tapak-tapak tak bernyawa


sekerat waktu menampik kesendirian dilorong ruang tanpa batas

dan aku masih terduduk menunggu kisah yang terhalang jeruji tilam kecil

hingga lukisan sudut-sudut kota dapat ku genggam dari puncak pendakian

entah apa yang ku buat dengan ini???


sekeping harapan??? atau sepenggal mimpi??? diantara mendung

sudah bosan aku selalu berteriak kepada mata angin yang terhalang senyum

lebih ku pilih tuliskan pada selembar daun diantara ilalang

dan bernyanyi bersama pasir di pantai dan lembah- lembah hijau

aku pergi dari
sisi matimu





jakarta di sudut waktu yang hilang

Wednesday, January 28, 2009

jakarta, 29 January 2009

dear mayaku,,,,
aku sekarang punya cowo loch,, namanya royani tapi teman- temennya manggil dia dengan sebutan doelkunyit...

udah 4 bulan berjalan dengannya,,, orangnya sech nggak cakep nggak juga keren... tapi dia baik banget...

au sayank sama dia...