Tuesday, May 19, 2009

wajah emas itu

ketika langit serukan lagu sepi dan mengalahkan sinar sang mentari

dicakrawala ku temukan seorang anak dengan wajah emasnya

menangis namun tertawa, entah apa yang ada dalam benaknya

mungkin dia menunggu kekasih pelangi tanpa hujan


beranjak malam dia menari dengan bintang- bintang

berakhir di muara beduk subuh

entah kapan dia tertidur dalam lampin peraknya

yang ku tau pernah menghiasi taman langit


ternyata hampir seperempat abad aku memperhatikan gadis kecil berwajah emas

dengan hati terluka oleh gurat- gurat kata

namun tak pernah ku lihat melukai anak sungai dengan air matanya

tak pernah juga ku lihat menggoreskan nama pada selembar kertas


rasanya ingin aku menari bersamanya mengalahkan semua duka

tubuh mungil berwajah emas

namun beberapa saat ku tersadar pada sebuah cermin usang disudut meja

aku merasa begitu dekat dan teramat dekat dengan wajah mungil itu

dia tepat berada dihadapanku


No comments:

Post a Comment