ketika langit serukan lagu sepi dan mengalahkan sinar sang mentari
dicakrawala ku temukan seorang anak dengan wajah emasnya
menangis namun tertawa, entah apa yang ada dalam benaknya
mungkin dia menunggu kekasih pelangi tanpa hujan
beranjak malam dia menari dengan bintang- bintang
berakhir di muara beduk subuh
entah kapan dia tertidur dalam lampin peraknya
yang ku tau pernah menghiasi taman langit
ternyata hampir seperempat abad aku memperhatikan gadis kecil berwajah emas
dengan hati terluka oleh gurat- gurat kata
namun tak pernah ku lihat melukai anak sungai dengan air matanya
tak pernah juga ku lihat menggoreskan nama pada selembar kertas
rasanya ingin aku menari bersamanya mengalahkan semua duka
tubuh mungil berwajah emas
namun beberapa saat ku tersadar pada sebuah cermin usang disudut meja
aku merasa begitu dekat dan teramat dekat dengan wajah mungil itu
dia tepat berada dihadapanku
No comments:
Post a Comment