Friday, February 20, 2009

warNa

Aku hanya dapat merindumu
berharap terhembusnya kesejukan meski sesaat
dwi warna yang dirimu ciptakan di pelupuk hatiku
berubah menjadi pelangi

bahkan bayangan air tebarkan kemilau keindahanmu
pujangga cinta tak mampu mensajakkan lagi
hingga mentari tenggelam
di tebing cakrawala

habis kata di tiap bait kalbuku
semuanya telah tenggelamkan
seluruh isi ruang hatiku

Lentera pErak

Lentera perak

kilaumu menembus katup jantungku

hanyutkan sisi-sisi ruang gelap

di pelupuk mataku


lentera perak

dekap aku dalam hangatmu

hancurkan tebing-tebing es

dalam tahta hatiku


lentera perak

lentera perak

temani aku setiap hari

kan ku taruh tiap jemari cintaku di sana

pangeran mimpi

Jari jemari cintaku tak lagi dapat menggenggam harap
hingga mentari merambat meninggalkan kepingan jingga di pundak cakrawala

sudahku cari di lorong -lorong waktu
cermin kesedihan
tetap tak ku dapati kesejukan suara kasih yang mengalun

ku tanya pada ilalang berkecapi emas
“apa kau tau dimana kereta kencana perak ?”

yang mampu terbang dengan separuh sayap penantian yang tersisa
untuk menggapai bintang hingga dapat kembali berpijak
mencari jejak-jejak tak bertapak

menyisir tepian pantai tak bergelombang
mencari serpihan- serpihan kenangan yang tertinggal
berharap dapat kembali kurajut menjadi kelopak-kelopak bunga
seperti pelangi nan elok di langit senja

temani aku pangeran mimpi
menunggu embun pagi membelai jiwaku yang mulai rapuh
mengisi tengkuk kerongkonganku
mengalir membasahi hati yang gersang

selembar puisi lagi


RINDU

Rajutan alam berusaha menyelesaikan cakrawala

ditepian tebing kudengar sayup sayup denting senar bergema diantara lembah- lembah hijau

rumput dan pinus-pinus muda ikut menari dengan ujung lembar jemari daunnya

serta ranting- ranting itu berubah menjadi lekukan-lekukan tangan dalam balutan hutan


lihatlah ombak berderu tiada lelah berlari di tepian pantai menghitung pasir

ditiap sela-sela karangnya yang kokoh

mengikuti bunga-bunga laut yang bernyanyi

nyanyikan lagu rindu yang aku senandungkan diantara tapak-tapak tak bernyawa


sekerat waktu menampik kesendirian dilorong ruang tanpa batas

dan aku masih terduduk menunggu kisah yang terhalang jeruji tilam kecil

hingga lukisan sudut-sudut kota dapat ku genggam dari puncak pendakian

entah apa yang ku buat dengan ini???


sekeping harapan??? atau sepenggal mimpi??? diantara mendung

sudah bosan aku selalu berteriak kepada mata angin yang terhalang senyum

lebih ku pilih tuliskan pada selembar daun diantara ilalang

dan bernyanyi bersama pasir di pantai dan lembah- lembah hijau

aku pergi dari
sisi matimu





jakarta di sudut waktu yang hilang