Membagi cerita pada ruas ruas buku
membagi mimpi dalam lukisan- lukisan cahaya yang kau buat
seperti telunjukku yang masih sangat ingin melihat senyum meski dalam intip
pada sebuah buku yang orang tak pernah peduli
garis- garis rindu kulihat pada sepotong senyum terpampang pada selembar kertas
hitam, coklat bahkan menjadi putih
senyum, tawa, tangis dan tergugu
menjadi satu dalam buku tanpa cerita tanpa kata
anak- anak, remaja, dewasa bahkan orang tua menjadi satu
tanpa halangan, kontras diantara keramaian kota yang terpasang
siang dan malam mungkin tak ada beda
mencari butiran nasi mengisi pundi- pundi perutmu jika itu kamu
lihat peri- peri kehidupan bertebaran pada rambutmu, kulitmu, juga tawamu
: pada sepasang mata yang memandang hina padamu
akupun tak dapat berbuat banyak untuk itu
hanya mampu melihat, mendengar, atau jika ku ingin ku berikan jatah makan malamku hari ini
cahaya yang jatuh diujung kulitmu membentuk pelangi hingga tetes- tetes itu kering terbakar mentari
bersama hari yang tak pernah sembunyi bersama mimpi yang tak pernah mati
bersama hari yang terlalui
tempo hari ku dengar disini adalah surga yang ingin kau curi
nyatanya hanya sepi yang kau dapati pada tiap jembatan yang pernah ku lalui juga pada bis kota yang ku temui
nasibmu dan nasibku tak ada yang tau
mana tahu besok kita bertukar nasib atau melaju alur sendiri- sendiri
ruas- ruas buku itu kembali berputar untuk bertemu denganmu
melalui lukisan- lukisan cahaya yang kau genggam kehidupannya
hitam, coklat dan putih itu kembali daripadaku
mengunci misteri dalam hari
* ini terinspirasi dari pameran foto hari kesehatan Nasional,, "Manusia & Lingkungan" KFD(Klub Fotografi Depkes)
No comments:
Post a Comment